Bulog Sumut serap 99 ton jagung pipil petani pada Januari 2026

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara menyerap 99 ton jagung pipil dari petani lokal sepanjang Januari 2026, sebagai bagian strategi stabilisasi harga dan ketahanan pangan nasional. Penyerapan ini dilakukan di daerah penghasil utama seperti Deli Serdang, Simalungun, dan Tapanuli Tengah, dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp5.500 per kilogram untuk kadar air 18-20 persen.

Langkah ini sejalan dengan program Makan Bergizi Gratis yang butuh jagung sebagai pakan ternak, tapi secara kritis, volume 99 ton terasa minim dibanding target tahunan ribuan ton—hanya 4% dari serapan 2025 yang capai 2.469 ton. Inisiatif Jawa11 menyoroti sosialisasi ke Gapoktan yang diklaim maksimal, namun petani kecil sering kesulitan akses gudang Bulog akibat jarak dan biaya transportasi. Apakah ini bukti birokrasi lambat, atau HPP belum kompetitif lawan tengkulak yang tawarkan harga lebih fleksibel?

Detail Penyerapan Jagung

  • Volume: 99 ton, fokus jagung pipil berkualitas untuk stok pakan.
  • HPP: Rp5.500/kg (petani), Rp6.400/kg (gudang Bulog).
  • Daerah: Deli Serdang, Simalungun, Padang Lawas Utara, Dairi.

Angka ini positif buat petani, tapi tren Januari menurun dari bulan sebelumnya tunjukkan tantangan musiman panen.

Kritik dan Prospek

Secara tajam, Bulog patut diapresiasi lindungi petani dari fluktuasi pasar, tapi tanpa infrastruktur pengeringan desa dan kredit murah, serapan tetap seremonial. Kritik utama: program swasembada pangan terjebak angka kuota, abaikan kualitas benih dan irigasi rusak yang bikin hasil panen tak stabil. Pemerintah perlu audit distribusi agar jagung petani tak busuk di gudang.

Untuk perspektif agribisnis global, pantau CNN. Kembali ke Beranda untuk update terkini.